Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015
1. Latar Belakang
Indonesia kini tengah berpacu dengan waktu dalam menyambut pelaksanaan
pasar bebas Asia Tenggara atau biasa disebut dengan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) yang akan dimulai pada tahunn 2015. ASEAN telah menyepakati
sektor-sektor prioritas menuju momen tersebut. Ketika berlangsung ASEAN
Summit ke-9 tahun 2003 ditetapkan 11 Priority Integration Sectors (PIS).
Namun pada tahun 2006 PIS yang ditetapkan berkembang menjadi 12 yang
dibagi dalam dua bagian yaitu tujuh sektor barang industri dan lima
sektor jasa. Ke-7 sektor barang industri terdiri atas produk berbasis
pertanian, elektronik, perikanan, produk
berbasis karet, tekstil, otomotif, dan produk berbasis kayu. Sedangkan
kelima sektor jasa tersebut adalah transportasi udara, e-asean,
pelayanan kesehatan, turisme dan jasa logistik.
Keinginan ASEAN membentuk MEA didorong oleh perkembangan eksternal
dan internal kawasan. Dari sisi eksternal, Asia diprediksi akan menjadi
kekuatan ekonomi baru, dengan disokong oleh India, Tiongkok, dan
negara-negara ASEAN. Sedangkan secara internal, kekuatan ekonomi ASEAN
sampai tahun 2013 telah menghasilkan GDP sebesar US$ 3,36 triliun dengan
laju pertumbuhan sebesar 5,6 persen dan memiliki dukungan jumlah
penduduk 617,68 juta orang. Tulisan ini secara ringkas akan menganalisis
peluang Indonesia menghadapi persaingan dalam MEA.
2. Permasalahan
Salah satu ancaman terbesar Indonesia terhadap dunia usaha kecil dan
menengah adalah ketika Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan pada
tahun 2015 yang akan datang. Pada konteks perdagangan ASEAN tersebut,
Indonesia justru menjadi potensi untuk dijadikan basis konsumsi terbesar
di ASEAN, sebab dengan 241 juta jiwa lebih penduduk Indonesia dapat
diartikan sebagai pasar yang menggiurkan bagi segala pihak. Untuk
menghadapi hal tersebut Indonesia perlu memilki langkah strategis
menghadapi agenda Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.
MEA harus dianggap sebagai kesempatan dibandingkan sebagai kerugian.
Jika berbenah serta terus meningkatkan daya saing, Indonesia diyakini
akan berhasil. Pertanyaan yang sering mengemuka terkait dengan
pemberlakuan MEA 2015 ini adalah siapakah pelaku usaha nasional
menghadapinya? Ini lantaran MEA memberikan peluang yang harus diraih
sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Spiritnya tentu saja siap atau
tidak siap pengusaha nasional, termasuk pengusaha perbankan dan lembaga
keuangan lainnya harus tetap bersiap menyongsong diberlakukannya MEA
2015.
3. Kandungan Teori Keilmuan
Tidak lebih dari satu tahun lagi pergerakan barang, modal, jasa,
investasi dan orang yang telah disepakati akan bebas keluar masuk di
antara negara anggota ASEAN, alias tanpa hambatan baik tarif maupun
nontarif. Ini tantangan sekaligus peluang. Peluang, karena produk-produk
kita akan mendapat pasar di kawasan ASEAN. Populasi ASEAN pada 2012
mencapai 617,68 juta jiwa dengan pendapatan domestik bruto 2,1 triliun
dolar AS. Jumlah itu menunjukkan potensi besar ASEAN untuk digarap oleh
investor. Namun juga menjadi tantangan, karena jika kita tidak siap maka
justru produk dari negara ASEAN lainnya yang akan menyerbu Indonesia.
Saat ini pun, banyak produk impor yang masuk ke Indonesia. Ada
keraguan memang apakah Indonesia akan siap. Keraguan akan kemampuan
Indonesia antara lain disampaikan Ketua Bidang Organisasi Ikatan Sarjana
Ekonomi Indonesia Edy Suandi Hamid. Ia mengatakan Indonesia belum siap
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. “Hal itu disebabkan daya saing
ekonomi nasional dan daerah belum siap,” kata Edy.
Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International
Studies Yose Rizal Damuri menilai Indonesia perlu membahas strategi
dalam menghadapi MEA seperti peningkatan daya saing dalam berbagai
bidang. “Banyak masalah yang harus dibahas terlebih dahulu, misalnya
saat ini biaya logistik masih mahal sehingga menjadi pertanyaan apakah
Indonesia bisa meraup keuntungan,” kata Yose Rizal.
Selain itu pemerintah juga harus mempersiapkan secara matang
infrastruktur, tenaga kerja dan iklim bisnis dalam negeri. Dia
mengatakan diperlukan peraturan yang mendukung dunia usaha seperti
membuat aturan untuk mempermudah seseorang untuk mendirikan usaha di
Indonesia. Sementara Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo)
Sofjan Wanandi mengatakan pemerintah harus menentukan bidang apa yang
menjadi andalan Indonesia menghadapi MEA. Menurut dia, selama ini
Indonesia tidak tahu sektor mana yang akan dibebaskan pada asing dan
dikelola sendiri secara maksimal.
Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, menyatakan, Indonesia
sudah siap bersaing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic
Community/AEC) 2015. Bayu mengatakan, industri di Indonesia sudah 83
persen dalam suasana AEC, khususnya pada sektor peralatan listrik dan
elektronik. Ia menyebutkan, Indonesia harus memanfaatkan potensi pasar
di ASEAN yang begitu besar, yakni meliputi 10 negara dengan lebih dari
500 juta penduduk. Mengenai persiapan di dalam negeri, Dirjen Kerja Sama
Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Imam Pambagyo pernah
mengatakan antara lain memperkuat daya saing, mengamankan pasar
domestik, dan mendorong ekspor.
Di tingkat nasional, kata Imam, upaya-upaya untuk mempersiapkan
Indonesia memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN, dikoordinasikan di
bawah Kantor Menko Perekonomian yang juga mewakili Indonesia di ASEAN
Economic Community Council dan membawahi semua kementerian sektor di
bidang ekonomi. Menurut Imam, kontribusi ASEAN sebagai pasar tujuan
ekspor Indonesia mempunyai peran yang cukup besar terhadap ekspor non
migas Indonesia, yaitu tahun 2012 berkontribusi sebesar 20,4 persen
terhadap total ekspor non migas Indonesia (31,21 miliar dolar AS),
meningkat 19,88 persen dari tahun sebelumnya. “ASEAN merupakan sumber
investasi yang penting bagi Indonesia,” kata Imam. Pemerintah tentu
harus pula membantu dan mempersiapkan agar masyarakat Indonesia siap
dalam menghadapi MEA.
Untuk itu Kementerian Perdagangan saat ini mempersiapkan produksi,
daya saing dan ekonomi yang merata di seluruh kawasan menyongsong MEA.
“Kementerian telah menyiapkan kebijakan penting terkait pasar tunggal
ASEAN,” kata Menteri Perdagangan Gita Wirjawan saat menjadi pembicara
dalam bincang-bincang menyongsong ASEAN Economic Community 2015.
Kebijakan yang dipersiapkan seperti terkait pasar tunggal dan basis
produksi terutama untuk produksi kategori ekspor.
Gita juga menekankan pentingnya masyarakat Indonesia dalam menyiapkan
daya saing secara bersama-sama agar peluang MEA dapat dioptimalkan.
“MEA harus dapat menjadi peluang Indonesia untuk memanfaatkan pasar
ASEAN sekaligus sebagai basis produksi dan investasi,” katanya. Peluang
itu terbuka luas bagi pengembangan industri di Indonesia apalagi
Indonesia merupakan negara produsen komoditi potensial dunia.
Gita mengatakan setiap pemangku kepentingan harus memiliki
pengetahuan dan pemahaman yang baik serta siap menghadapi tantangan yang
muncul apabila Indonesia ingin berhasil dalam memandaatkan peluang yang
ada. “Seluruh pemangku kepentingan di tingkat elit politik, pemerintah,
dunia usaha serta kalangan pendidikan harus bersatu padu menyebarkan
informasi untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat
menghadapi MEA 2015,” kata dia.
Pada 18-21 Agustus ini dilakukan Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN di
Brunei Darussalam yang juga akan dihadiri oleh Gita Wirjawan. Salah satu
agendanya tentu saja membahas MEA, termasuk sampai dimana persiapan di
masing-masing negara anggota. “Progres atas implementasi cetak biru
Masyarakat Ekonomi ASEAN akan menjadi salah satu agenda penting yang
dibahas pada pertemuan para Menteri Ekonomi ASEAN ini dalam rangka
mewujudkan MEA 2105,” kata Gita. MEA sudah di depan mata, maka persiapan
yang matang merupakan suatu keharusan.
4. Hasil yang di harapkan
Di tengah arus globalisasi yang kian besar, dan tantangan yang ada di
depan mata adalah menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 harus
diperhatikan sebagai peluang untuk mensejahterakan rakyat Papua. Dengan
arus kapital yang kuat dapat mendorong terciptanya peluang usaha atau
bisnis baru dan membuka lapangan pekerjaan baru. Disamping dengan adanya
arus investasi asing diperlukan sumberdaya manusia yang kompetibel.
Dengan memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam menghadapi tantangan MEA
2015 diharapkan adanya transfer teknologi dan informasi untuk
kemandirian bangsa kedepan. Beberapa pendekatan yang mampu di optimalkan
untuk menghadapi tantangan MEA 2015 kedepan:
Pertama, pendidikan merupakan hal yang terpenting untuk meningkatkan
kualitas sumberdaya masyarakat di kawasan Indonesia Timur. Sebagai usaha
untuk meningkatkan daya saing dengan penduduk dari asal negara asing
lainnya, penting untuk pemerintah daerah maupun pusat untuk lebih
memberikan perhatian kepada masalah pendidikan. Penyuluhan sebagai
langkah untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat setempat pun perlu
dilakukan untuk memberikan kemudahan mengelola kekayaan alam KTI.
Kedua, infrastruktur adalah faktor penunjang untuk memberi kemudahan
investasi masuk terutama memberi kemudahan masyarakat. Pembangunan
pelabuhan, jalan raya, rumah sakit, sekolah maupun bandara adalah tepat
dilakukan pemerintah untuk memberi kemudahan akses masyarakat.
Infrastruktur ini jugalah yang akan melirik minat investor masuk kedalam
negeri. Infrastruktur yang memadai mempermudah akses produksi dan
distribusi produk hasil perikanan ke pasar domestik maupun mancanegara.
Pasar perikanan tangkap merupakan potensi bahari yang sangat diminati
pasar dunia, seperti ikan tuna, ikan cakalang, ikan tenggiri, dan jenis
ikan laut lainnya.
Ketiga, Subsidi bagi masyarakat untuk memacu dan membangun industri
rumah tangga maupun usaha kecil-menengah. Melihat potensi laut yang
begitu besar dibelahan Indonesia timur sangat penting akan lahirnya
usaha kecil-menengah. Subsidi berupa sarana dan pra-sarana produksi
berupa alokasi BBM (BahanBakarMinyak), alat tangkap dan armada kapal
tangkap. Untuk memperkuat basis produksi, pemerintah harus memperhatikan
keberlangsungan aktivitas melaut para nelayan. Sehingga tingkat
produktifitas bahan baku tetap stabil dan mengurangi tingkat
ketergantungan impor.
Subsidi juga diperlukan untuk mengembangkan industri kreatif seperti
tenunan, cenderamata maupun pahat kayu. Selama ini industri kreatif
terkendala masalah modal usaha padahal produk hasil industri kreatif
merupakan kualitas ekspor. Industri kreatif ini juga yang akan
mempertahankan nilai budaya dan tradisi lokal masyarakat setempat.
Ketiga pokok pendekatan inilah sekiranya mampu menjadikan potensi
laut KTI menjadi produk unggulan ditengah pasar bebas. Selain itu, perlu
adanya sinergisitas antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah
untuk menghadapi tantangan MEA 2015. Semangat gotong-royong antar elemen
masyarakat maupun birokrasi inilah yang diharapkan lahirnya kekuatan
ekonomi baru melalui aspek perikanan-kelautan NKRI. Kekuatan ekonomi
baru dibidang perikanan-kelautan ini juga diharapkan mampu membendung
sentimen negatif yang selama ini dirasakan pada produk hasil pertanian.
5. Upaya mengatasi masalah
MEA akan menjadi tantangan tersendiri bagi Bangsa Indonesia dengan
transformasi kawasan ASEAN menjadi pasar tunggal dan basis produksi,
sekaligus menjadikan kawasan ASEAN yang lebih dinamis dan kompetitif.
Pemberlakuan MEA dapat pula dimaknai sebagai harapan akan prospek dan
peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih
luas, melalui integrasi ekonomi regional kawasan Asia Tenggara, yang
ditandai dengan terjadinya arus bebas (free flow) : barang, jasa,
investasi, tenaga kerja, dan modal.
Dengan hadirnya ajang MEA ini, Indonesia sejatinya memiliki peluang
untuk memanfaatkan keunggulan dengan meningkatkan skala ekonomi dalam
negeri, sebagai basis memperoleh keuntungan, dengan menjadikannya
sebagai momentum memacu pertumbuhan ekonomi.
MEA mendatang seyogyanya perlu terus dikawal dengan upaya-upaya
terencana dan targeted dengan terus meningkatkan sinergitas, utamanya
dalam meningkatkan dukungan menata ulang kelembagaan birokrasi,
membangun infrastruktur, mengembangkan sumberdaya manusia, perubahan
sikap mental serta meningkatkan akses financial terhadap sektor riil
yang kesemuanya bermuara pada upaya meningkatkan daya saing ekonomi.
Bagi Indonesia sendiri, MEA akan menjadi peluang karena hambatan
perdagangan akan cenderung berkurang bahkan menjadi tidak ada. Hal
tersebut akan berdampak pada peningkatan ekspor yang pada akhirnya akan
meningkatkan GDP Indonesia. Pada sisi investasi, dengan dukungan
birokrasi pada aspek kelembagaan dan sumber daya manusianya, diharapkan
dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif dalam mendukung masuknya
Foreign Direct Investment (FDI).
Meningkatnya investasi diharapkan dapat menstimulus pertumbuhan
ekonomi, perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan
sumber daya manusia (human capital) dan mengatasi masalah tenaga kerja
dan pengentasan kemiskinan yang menjadi tantangan dalam meningkatkan
kesejahteraan rakyat.
Sebagai gambaran, daya tarik investasi ke ASEAN lebih besar dari
pasar global ketimbang nilai investasi antar negara ASEAN sendiri. Nilai
investasi dari pasar global ke ASEAN mencapai 67 miliar dollar AS, jauh
lebih tinggi dibanding nilai investasi antar negara ASEAN yang hanya 26
miliar dollar AS.
Disamping itu pemberlakuan MEA 2015 mendatang dapat dijadikan peluang
bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, mengingat semakin
meningkatkan size ekonomi kawasan, dimana dalam studi CSIS dan ADBI,
diprediksikan negara-negara Asean akan berpendapatan total 5,4 triliun
dollar AS pada 2030 mendatang.
6. Kesimpulan
Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015 bisa jadi merupakan
momok yang menakutkan bagi beberapa kalangan. Misalnya ada kekhawatiran
bahwa lahan nafkah hidupnya akan diambil pendatang yang berasal dari
luar Indonesia.
Fenomena seperti semakin banyak orang Indonesia berobat ke Singapura
atau Malaysia sehingga kemudian sering menimbulkan pertanyaan, bagaimana
dengan kualitas rumah sakit di Indonesia, apakah dokternya kurang ahli?
Atau memang kualitas pelayanan yang belum memenuhi standar? Atau bahkan
kurang lincahnya kita melakukan promosi sehingga produk dan jasa tidak
dikenal?
Tak kenal maka tak sayang. Peribahasa tersebut masih relevan dalam
zaman sekarang ini. Untuk memperkenalkan diri supaya lebih dikenal,
diperlukan taktik jitu membangun merek baik pribadi maupun
organisasi. Namun terlebih dahulu, ada baiknya kita pahami arti merek
sesungguhnya. AMA (American Marketing Association) mendefinisikan merek
sebagai nama, terminologi, tanda, simbol yang menjadi penciri produk
atau jasa yang ditawarkan. Merek juga berfungsi sebagai pembeda dengan
produk atau jasa yang ditawarkan oleh pesaing (Keller, K.,
2003). Menghadapi persaingan bebas dengan para pendatang saat MEA tahun
2015, bagaimana agar merek Indonesia, entah produk atau jasa bisa
dikenal, tidak hanya oleh pasar dalam negeri namun juga oleh luar negeri
sehingga mampu bersaing dengan para pendatang asing.
7. Saran
Kiranya amat tepat bila pemerintah diharuskan untuk segera mempersiapkan
langkah dan strategis menghadapi ancaman dampak negatif dari MEA dengan
menyusun dan menata kembali kebijakan-kebijakan nasional yang diarahkan
agar dapat lebih mendorong dan meningkatkan daya saing sumber daya
manusia dan industri sehingga kulaitas sumber daya manusia baik dalam
birokrasi maupun dunia usaha ataupun professional meningkat. Pemerintah
diharapkan pula untuk menyediakan kelembagaan dan permodalaan yang mudah
diakses oleh pelaku usaha dari berbagai skala, menciptakan iklim usaha
yang kondusif dan mengurangi ekonomi biaya tinggi.
8. Daftar Pustaka
http://berkas.dpr.go.id/pengkajian/files/info_singkat/Info%20Singkat-VI-10-II-P3DI-April-2014-4.pdf
http://weshare2014.wordpress.com/about/
http://m.antaranews.com/berita/391103/masyarakat-ekonomi-aswan-di-depan-mata
http://setkab.go.id/peningkatan-daya-saing-ekonomi-dan-peran-birokrasi/
http://inspirasibangsa.com/potensi-laut-indonesia-timur-menghadapi-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015/
http://manajemenppm.wordpress.com/2013/11/15/menghadapi-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015/
http://regional.kompasiana.com/2014/06/28/kesiapan-sumber-daya-manusia-sdm-indonesia-menyongsong-implementasi-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015-664888.html